Cara Menutupi Kehamilan 7 Bulan

Kamu hamil. Sudah jalan 7 bulan. Dan entah apapun alasannya, kamu tidak mau mengundang perhatian terlalu banyak orang dengan perutmu yang semakin membesar. Kamupun mencari cara menutupi kehamilan 7 bulan milikmu.

Kamu sedang beruntung, karena hari ini kita akan membahas hal itu.

Isi artikel dibawah ini akan selalu dimutakhirkan. Selalu update dan up to-date.

OK, mari langsung terjun ke pokok masalahnya:

Ukuran Perut Wanita Saat Hamil

Mengapa Harus Ditutupi?

Sebelum kita bahas soal cara menutupi kehamilan 7 bulan, kita harus sadari bahwa setiap kehamilan itu adalah anugerah.

Cara-Menyembunyikan-Kehamilan-7-Bulan

Kalaupun ada orang yang ingin menyembunyikannya, setiap orang punya alasan masing-masing.

Bisa jadi karena kebutuhan pekerjaan, misalnya. Siapa yang tahu kan?

Ini Cara Menutupi Kehamilan 7 Bulan Yang Efektif

Nah, buat kamu yang membutuhkan tips-tips untuk menyembunyikan perut yang semakin membesar, ini dia beberapa trik buat kamu:

1. Gunakan Pakaian Super Longgar

Ini tips yang paling umum, dan memang wajib kamu lakukan (dan mungkin sudah kamu lakukan)

Gunakan pakaian longgar yang dipadankan dengan legging, biar tidak terlihat seperti badut. Semuanya kegedean.

Kalau pakai kemeja, bisa dikeluarkan, atau bisa juga dimasukkan, tapi ditarik sedikit keluar.

2. Selalu Gunakan Pakaian Bermotif

Kamu tau kenapa tentara selalu pakai baju loreng?

Kenapa harimau kulitnya bercak-bercak totol?

Itu namanya kamuflase. Agar musuh atau mangsa tidak sadar keberadaannya.

Kamu juga bisa berkamuflase. Pakai motif yang rame.

Tapi jangan pakai motif garis. Malah makin kelihatan hamilnya.

3. Pakai Baju Berwarna Hitam

Black is your best friend.

Kenapa?

Bayangkan kalau di siang hari bolong, kamu lagi hamil 7 bulan, trus pakai baju warna merah, kuning dan pink.

Semua mata akan segera tertuju padamu.

Lagipula, warna gelap akan menyamarkan bayangan dan lekuk tubuhmu.

4. Jangan Takut Pakaian Berlapis

Yang jelas, jangan pakai daster ke luar rumah. Atau kaos oblong. Gile aje.

Kalau punya blazer longgar, atau cardigan yang satu size lebih besar, mending dipake.

Sebagai lapisan luar, dalamannya bisa kemeja.

Karena bisa menutupi lekuk perut yang membesar. Tapi jangan dikancing ya..

5. Alihkan Perhatian

Usahakan mereka jangan lihat ke arah perut deh.

Pakai topi jambul khatulistiwa misalnya. Biar lawan bicara selalu melihat keatas, bukan ke area bawah.

Pakai make-up menor, bulumata cetar badai. Pokoknya be creative. Tidak ada batasan disini.

Kesimpulan

Hamil adalah salah satu kodrat wanita. Tapi tidak semua wanita mau kehamilannya mejadi pusat perhatian.

Tidak ada yang salah kalau kamu ingin menyembunyikan kehamilanmu yang sudah membesar itu.

Yang penting, jaga selalu kesehatan janinnya. OK?

F.A.Q.

Bolehkah Kehamilan Itu Ditutupi?

Ya boleh-boleh saja. Kalo dipajang kan juga aneh jadinya..

p.s. : Sebenarnya, artikel ini saya buat hanya untuk menguji efektifitas strategi SEO On-Page. Kalau anda menemukan cara menutupi kehamilan 7 bulan ini di halaman pertama Google, berarti strategi saya berhasil. (dan anda bisa contek caranya. hehehe..)

p.s.s. : buat yang ngerti aja.

Kekuatan Iklan

Jaman tahun 90-an dulu, di TV suka ada film-film blockbuster yang ditayangkan saat momen-momen tertentu secara gratis.

Sebut saja Die Hard, Speed, Home Alone, dan masih banyak lagi judul-judul film premium yang sejatinya hanya bisa disaksikan di bioskop.

Tapi beruntungnya, RCTI, SCTV dan TV swasta lainnya berbaik hati membeli hak siar film-film itu, dan menayangkannya untuk kita, secara gratis.

Yes. Gratis. Enak kan jadi penonton TV di Indonesia?

Tapi ada satu hal yang sedikit menyebalkan saat menonton acara blockbuster ini. Apa itu?

Iklan.

Setiap 10 menit adegan film, kita dipaksa menonton jeda iklan yang kadang lebih lama dari adegan filmnya sendiri.

Kalau ditinggal ke toilet, atau cari cemilan ke dapur, takut malah ketinggalan alur cerita filmnya.

Akhirnya terpaksalah ditonton juga itu iklan.

Dan ternyata, iklan itulah yang membuat kita bisa menonton film blockbuster yang mahal itu secara gratis. Karena mereka membayar Stasiun TV untuk menayangkan iklan mereka.

Dengar-dengar, tarifnya bisa sampai ratusan juta per 15 detik di waktu-waktu premium.


15 tahun kemudian, saya mulai menulis blog, dan kemudian tahu bahwa ternyata menulis di blog bisa menghasilkan uang.

Caranya? Dengan menempatkan iklan di dalam blog.

Saya kemudian berkenalan dengan Google AdSense. Dan mulai menghasilkan uang dari sana.

Tidak sampai membuat jadi kaya raya, tapi cukup buat bayar domain, hosting dan sedikit cilok. Hehehe..

Dari situ, kemudian saya berkenalan dengan affiliate marketing, meskipun hanya kulit-kulitnya saja. Dapat lumayan juga buat beli siomay.

Bisnis yang dijalankan oleh RCTI dan SCTV dua dekade silam, kini ternyata bisa saya lakukan juga. Dengan media yang berbeda.

Tapi ternyata, bukan hanya media yang menayangkan iklan yang mendulang untung. Si pengiklan juga dapat untung. Bahkan mungkin lebih besar dari yang mereka bayar ke media.

Disitulah kemudian saya belajar untuk tidak hanya mengambil kue iklan. Tapi juga mulai beriklan. Dan pilihan saya ternyata tidak salah.


5 tahun setelah blog pertama saya, saya kemudian mulai memanfaatkan platform yang sedang booming di negeri ini. Marketplace.

Pertama berjualan, saya langsung mengadopsi iklan marketplace.

Tokopedia TopAds, Bukalapak BukaIklan, Shopee Ads.

Dan diluar perkiraan saya, hasilnya luar biasa.

Kalau dihitung-hitung, sudah ada ratusan juta yang saya hasilkan dari berjualan di marketplace.

Dan angka itu murni dari iklan. Kalau tidak ngiklan, penjualan merosot drastis. Ternyata iklan adalah kunci rahasianya.

Memancing uang dengan menggunakan uang. Begitu pepatah yang pernah saya dengar. Dan benar adanya.


Kini, hasil saya dari marketplace sudah tidak sebesar dulu, kendala di supplier dan persaingan yang semakin ketat adalah kambing hitam yang sering saya salahkan.

Tetapi, saya tahu, selama kita punya produk yang cukup baik, dan promosi yang masif, peluang akan masih terbuka lebar.

Itulah yang membuat saya tertarik belajar metode marketing lainnya.

Facebook Ads. Google Ads. Email Marketing

Dan langsung saya praktekkan. Tapi bukan untuk penjualan online. Melainkan penjualan offline.


Istri saya adalah pedagang makanan. Dia berjualan sarapan di dekat rumah.

Makanannya enak. Istri saya memang jago masak. Saya akui itu.

Tapi sayangnya, warungnya sepi pengunjung.

Pernah beberapa hari dia mengeluh nyaris tidak ada pembeli yang mampir membeli dagangannya.

Ini kasus yang ideal untuk mencoba iklan online untuk konversi di bisnis offline.

Saya kemudian membuat Facebook Ads Campaign, dengan 2 Objective.

Engagement dan Store Visit.

Targetingnya orang-orang yang satu kecamatan dengan warung istri saya.

Hasilnya, terjadi peningkatan penjualan hingga 3 kali lipat.

Iklan online to offline ternyata masih sangat efektif.

Sekarang istri saya sedang merekrut karyawan, dan berencana menambah jam buka warung, serta menu makanan yang dijual.

Target kami, dalam waktu 6 bulan kedepan, bisa meningkatkan omset minimal 4 kali lipat.

Setelahnya, tentu saja scale up dengan menambah cabang.

Doakan saja rencana ini berjalan lancar.


Lantas apa pelajaran yang bisa dipetik dari tulisan yang bertele-tele ini?

Sederhana saja.

Jika anda memiliki bisnis, baik offline, apalagi online, kemampuan mengarahkan traffic ke bisnis anda sangatlah penting.

Sempatkan waktu anda untuk belajar SEO, Paid Traffic, Endorsement dan sejenisnya.

Di masa sekarang, skill marketing anda bisa jadi pembeda antara bisnis yang untung dan yang buntung.

Meskipun bisnis anda baru beromset ratusan ribu per hari, dengan marketing, insya Allah bisa membuatnya jadi jutaan per hari.

Sheperti Ithu. *Nunjuk layar laptop*.